Frasa #1

Bumi itu sunyi, katamu yang berteman baik dengan isi kepala yang tak pernah sepi. Riuhnya isi kepalamu adalah problema yang tak pernah selesai kau diskusikan dengan semesta. 

Saya hanya penonton kau dan perdebatan isi kepalamu yang lebih sering kau ajak bicara walaupun dia bisu akan sapa, tak seperti saya yang bisa kau ajak bicara tapi lebih sering kau jadikan pelengkap diskusimu dan semestamu yang entah apa itu.

Dari dulu, ingin sekali saya diizinkan untuk mengunjungi semestamu, agar saya bisa menjadi telingamu disaat semestamu itu lelah denganmu.
Meski baru beranjak memasuki usia kepala dua, kau lebih dewasa dari yang saya kira. Wanita muda penuh akan cita yang selalu mempesona dengan frasanya, saya akui telah membuat saya kembali merasakan rasa bahagia itu lagi, dan anehnya rasa itu hanya ada saat bersamanya.

"Hey! , ngelamun aja nih mikirin apa ?
"Owh, pasti mikirin cewek ya ?"
"Uluh uluh ternyata pria sastra ini bisa jatuh cinta juga ya ?"
Ucapnya sambil menyeruput cappucino milikku 
"Enak cappucino nya ? Belum saya bayar itu"
"Beneran ? Aku gak bawa uang tau. Tadinya nggak niat kesini tapi pas lewat liat kamu lagi ngelamun langkahku menuntunku kesini hehe,
Setelah iti dia buru buru lari sambil sesekali tersandung karena dia tak memperhatikan langkahnya
"Thankyou cappucinonya"

Ucapanya sambil berteriak walaupun saat itu kantin kampus sedang ramai.
Entah karena dorongan apa saya tersenyum melihatnya tak peduli berapa banyak tatapan mata yang tertuju pada kami, tapi saya tak peduli tingkah konyolnya adalah magnet bagi saya.

"Enak cappucinonya?"
"Eh mas elang, ada perlu apa kesini"
"Pulang yuk? Saya antar"
"Emang ya manusia sastra ini paling mengerti"

Akhirnya kami meninggalkan gedung fakultas kedokteran tempat kami menuntut ilmu sejak 2 tahun lalu. Suasana universitas terbaik diIndonesia sore itu sangat sangat mempesona, langit oranye yang memanjakan mata juga seorang cucu hawa disamping saya yang membuat suasananya sempurna.

"Harusnya kita pake sepeda tau, betis aku lama lama kaya binaragawan tau"
"Kalau kata aku bukan kayak binaragawan tapi kayak bu idah warung deket kosan kamu itu"
"Kamu ya, berani ya sekarang"
Akhirnya sore itu kami saling kejar kejaran seperti anak kecil yang sedang kegirangan.
"Helmnya baru dicuci ya ?"
"Iya, kenapa?"
"Wangi, aku suka wangi yang ini"
"Eh tadi dikantin beneran kamu lagi ngelamunin cewek?"
"Iya."
"Siapa siapa ? Fakultas apa?"
"Fakultas....... rahasia"
"Oh jadi mainnya rahasia rahasiaan iya? Berani sekarang"
"Ampun ampun jangan digelitikin dong"

Aku kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh tapi segera aku ambil alih lagi keseimbangan motorku
"Sorry sorry aku gak sengaja"
Bisa aku rasakan deru nafasnya yang memburu menandakan dia benar benar kaget dan kulihat dari kaca spion wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.
Akhirnya aku putuskan untuk menepi 
"Tarik nafas dulu, mau minum dulu ? Aku cari dulu ya"
Tiba tida dia tertawa mengejekku
"Tadi itu pura pura, aku beneran soalnya muka kamu pucat tadi"
"Tadi itu beneran kagetnya, tapi itu pembalasanku"
"Jadi apa yang mau kamu tau hmm ?"
"Siapa wanita yang bisa membuat manusia sastra ini jatuh cinta"
"Sambil jalannya jawabnya soalnya takut kemaleman aku ada urusan lagi soalnya."
Dia mengangguk tanda setuju, aku pun kembali melajukan motorku, tapi bukan kearah rumahnya tapi
"Kedai pakdhe ?"
"Iya, laper soalnya"
"Jadi sudah sampai mana hubungannya, kau kan manusia sastra bukan perkara sulitkan menjatuhkan hatinya?
Kamu kan playboy cap kapak sejak SMA"
"Benarinya anak ini"
"Ampun gini nih kalo lagi jatuh cinta baperan"

Kalau dipikirkan lagi benar kata dia harusnya bukan perkara sulit aku menjatuhkan hati wanita mana saja, masalahnya wanita itu dia, dia yang masih bertanya aku mencintai siapa, padahal sudah sejak lama aku mencintainya. 

Komentar